Rabu, 15 Juni 2016

Desa Legetang yang pernah hilang

Legetang yang hilang
Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ
تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).
Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).

Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.

Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung.
Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955”

Allah Maha Besar.
Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan kemaksiatan. Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian.
Wallahu a’lam bish shawab.

Keterangan dari Saksi Mata:
Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafidzahullah berkata:
“Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga keinginan ana utk mengunjungi Desa Ahlus Sunnah Dusun Kepakisan dan melihat Desa yang musnah Dusun Lagetan.
Insya Allah banyak cerita hikmah yang akan ana bagi. Diantaranya yang bisa ana sampaikan saat ini bahwa musnahnya Dusun Lagetan yang dihuni oleh para pelaku syirik dan maksiat adalah benar adanya.
Pak Thoyib hafizhahullah [67 thn], sesepuh Ahlus Sunnah, ketika itu berumur 11 tahun menceritakan dengan detail peristiwa tersebut.
Diantara kisah yang beliau sampaikan, bahwa antara Dusun Lagetan dan Gunung yang jatuh menimpa mereka terdapat sebuah lembah, namun anehnya tanah dari longsornya gunung tersebut tidak ada yang jatuh di lembah.
Dan lebih dahsyat lagi, di lembah itu ada sebuah batu besar yang DISEMBAH oleh penghuni dusun. Batu tersebut terangkat ke atas dan menggelinding di Dusun Lagetan, lalu menghancurkan semua yang ia lewati termasuk manusia.
Batu besar tersebut berhenti di ujung dusun dan di belakangnya penuh mayat bergelimpangan. Dan ternyata, kejadian seperti ini bukan hanya sekali. Nantikan kisah selengkapnya, insya Allah ta’ala jika ada waktu luang akan ana tulis lebih detail.
Alhamdulillah ta’lim dihadiri ratusan Ikhwan dan Akhwat dari pegunungan Dieng dan sekitarnya. Agenda besok insya Allah setelah ta’lim ba’da shubuh, ana akan diajak ke Telaga Warna dan Agrowisata, setelah itu melihat desa yang musnah dan batu besar yang membinasakan penghuninya.
Nantikan juga insya Allah kisah “Amirul Mukminin” alias Kepala Desa ini rahimahullah dan perannya yang sangat besar dalam membina masyarakatnya menjadi masyarakat Islami tanpa harus merampas kekuasaan dan memberontak kepada penguasa di atasnya.
Dengan taufiq dari Allah ta’ala pada akhirnya beliau dipertemukan dgn Asatidzah Salafiyin sehingga tauhid dan sunnah, serta adab-adab islami semakin tersebar. Insya Allah di desa ini kita tidak akan melihat wanita membuka aurat di luar rumah.
Hikmah besar yang bisa dipetik adalah pentingnya mendakwahi penguasa dan mendoakan mereka, bukan malah didemo, disebarkan aib-aibnya, dilaknat atau didoakan kejelekan, sebab -seperti kata Salaf- baiknya penguasa akan sangat berpengaruh bagi rakyatnya.”


Referensi:

Analisis Puisi Balada ibu yang dibunuh (WS. Rendra)

Balada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang di lindung pohon tua meliang
Bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bualan sabit terkait malam memberita datangnya
Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun
Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya
Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.

Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga
Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
Matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
Tanpa dukungan satu dosa, tanpa.


Analisis:
W.S Rendra adalah satrawan Indonesia yang sebagian puisi-puisi karyanya mudah sekali dipahami pembacanya. Sebut saja puisi karyanya berjudul Balada Ibu Yang Dibunuh. Puisi ini menceritakan tentang induk musang yang memperjuangkan hidup kedua anaknya hingga ia mati dibunuh warga.

Balada Ibu Yang Dibunuh menggunakan bahasa konkrit yang komunikatif, seperti pada larik “Ibu musang di lindung pohon tua meliang ; Bayinya dua ditinggal mati lakinya”. Namun selain bahasa konkrit , Rendra juga menggunakan bahasa-bahasa figuratif. Ini ditunjukkan pada larik “Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia ; Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa ; Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara”.

Puisi Balada Ibu Yang Dibunuh bertema tentang kehidupan dan pengorbanan seorang ibu. Suasana terharu karena melihat seprang ibu yang berkorban untuk anaknya sampai mati digambarkan olh W.S. Rendra dengan pilihan kata yang sangat apik. Nada prihatin juga dapat dirasakan dalam puisi ini. Selain pilihan kata, Rendra menggunakan simbol di dalam puisi ini, seperti pada larik “Bulan sabit terkait malam memberita datangnya (bulan sabit menggambarkan tentang waktu malam) ; Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara (bertanya apada angin tenggara disini menggambarkan tak ada jawaban).

Dalam puisi Balada Ibu Yang Dibunuh ini, Rendra mencoba member sebuah amanat yaitu Tumbuhkan rasa kasih saying pada siapapun. Pencitraan-pencitraan yang terdapat dalam puisi ini sangat bermacam-macam, antara lain pencitraan perasaan yang ditunjukkan pada larik “Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara”, pencitraan visual (penglihatan) pada larik “Ibu musang dilindung pohon tua meliang ; Bayinya dua ditinggal mati lakinya”, dan pencitraan pendengaran seperti pada larik “Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba”
Sedangkan puisi yang berjudul Sajak Putih karya Chairil Anwar, hamper seluruh pilihan katanya menggunakan kata kiasan (bahasa figuratif). Memang, sebagian besar puisi-puisi karya Chairil Anwar menggunakan bahasa figuratif daripada bahasa keseharian. Puisi Sajak Putih ini menceritakan tentang kesetiaan seseorang terhadap pasangannya hingga ajal menjemput mreka.
Jika puisi Balada Ibu Yang Dibunuh karya W.S. Rendra mengangkat tema tentang kehidupan dan pengorbanan seorang induk musang, lain halnya dengan Sajak Putih karya Chairil Anwar. Puisi karya Chairil Anwar ini bertema cinta dan kesetiaan. Suasana yang tergambar pun juga jauh berbeda, karena dalam puisi Sajak Putih suasananya senang dan bahagia yang bernada kasmaran dan jatuh cinta.

Dalam puisi tersebut, Chairil juga menggunakan banyak symbol-simbol, seperti misalnya pada larik “Di hitam matamu kembang mawar dan melati (melati menggambarkan tentang kesucian) ; Kau depanku bertudung sutra senja (sutra menggambarkan keitimewaan sang pasangan) ; Bersandar pada tari warna pelangi (pelangi disini menggambarkan keceriaan).

Sama seperti Balada Ibu Yang Dibunuh Sajak Putih menggunakan beragam pencitraan, antara lain pencitraan penciuman yang ditunjukkan pada larik “Harum rambutmu mengalun bergelut senda”, pencitraan perasaan yang ditunjukkan larik “Antara kita Mati datang tidak membelah”, dan pencitraan visual seperti pada larik “Kau depanku bertudung sutra senja ; Di hitam matamu kembang mawar dan melati”.

Puisi Sajak Putih memiliki amanat, Setialah pada satu pasangan sampai mati.
Walau bagaimanapun, kedua puisi tersebut memiliki makana yang sangat mendalam meski ditemukan perbedaan-perbedaan di dalamnya. Karya-karya W.S. Rendra dan Chairil Anwar akan tetap memukau para pembacanya.

Senin, 09 Mei 2016

Manusia dan Cinta Kasih



Pengertian Cinta Kasih




Setiap manusia di muka bumi pasti pernah merasakan cinta. Cinta datang dengan bentuk yang berbeda-beda, entah itu cinta kepada keluarganya bahkan kepada lawan jenis. Tak hanya manusia, mahluk lain pun dapat merasakan cinta.

Rabu, 20 April 2016

Prosa Lama : Hikayat Bayan Budiman dan Makanan Khas: Tauco

Prosa Lama

Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sastra indonesia mulai ada.

Bentuk prosa lama adalah:
  • Hikayat
  • Sejarah
  • Kisah
  • Dongeng
    • Fabel
    • Mite (Mitos)
    • Legenda
    • Sage
    • Dongeng Jenaka
  • Cerita Berbingkai

Bentuk prosa baru adalah:
  • Roman
  • Novel
  • Cerpen
  • Riwayat
  • Kritik
  • Resensi
  • Esai
Prosa cerita berbingkai :
 Hikayat Bayan Budiman

Sinopsis:
Seorang saudagar bernama Khoja Maimun dengan istrinya yang amat cantik Bibi Zainab nama-nya, serta dua ekor burung, yaitu seekor burung tiung dan seekor lagi burung bayan.

Pada suatu masa Khoja Maimun telah pergi ke sebuah negeri lain kerana berniaga; isterinya ditinggalkannya ber¬sama-sama dengan kedua ekor burung itu. Sepeninggalan Khoja Maimun pergi berniaga ke negeri lain itu, maka ter¬sebutlah kisah pada suatu hari tatkala Putera Mahkota negeri itu sedang berangkat mengedari kota, tiba-tiba terpandanglah ia kepada wajah isteri Khoja Maimun yang cantik itu; maka terikatlah rasa cinta berahi antara kedua pihak. Putera Mahkota ingin bertemu muka dan bercumbu-cumbuan dengan isteri saudagar itu lalu dimintanyalah supaya perempuan itu datang keistananya pada waktu malam.

Sesungguhnya, bahawa kewajiban dan kehormatan tidak ada makananya di sisi seseorang yang diharu nafsu berahi, maka demikianlah halnya pada suatu malam isteri Khoja Maimun itu pun berhias diri dengan tujuan akan pergi; tetapi terlebih dahulu ia telah mendapatkan burung tiung bertanyakan fikiran sambil menyatakan maksudnya itu lalu burung tiung memberi nasihat serta mengingatkan perempuan itu dengan cara berterus terang.

Sesudah isteri Khoja Maimun mendengar kata tiung maka ia pun terlalulah marah, katanya, "Kerana (laknat) bagimu! Tiada engkau tahu akan hal hati orang berahi? Kusangkakan engkau ada menaruh timbang rasa, kerana sama perempuan." Maka disentakkannya tiung itu dari dalam sangkarannya lalu dihempaskannya ke bumi. Maka tiong itu pun matilah.

Setelah dilihat oleh bayan kelakuan Bibi Zainab membunuh tiung itu tiada dengan semena-menanya, maka ia pun mendiamkan dirinya, pura-pura tidur. Maka Bibi Zainab pergilah mendapatkan bayan serta dibangunkannya. Maka bayan pun pura-pura terkejut, seraya katanya, "Apakah pekerjaan tuan datang kemari dengan malam kelam ini?"

Pada itu bayan pun mencari akal bagi menahan istri tuannya daripada melajakkan niatnya yang cemar itu dengan tidak mencela-cela perbuatannya, melainkan dengan jalan bercerita. Maka lekalah isteri Khoja Maimun mendengar cerita bayan yang amat menarik hatinya itu, hingga tiada jadi ia pergi. Cerita-cerita itu pula makin lama semakin banyak mengalirkan kias nasihat yang halus dan dalam ertinya, terutama sekali mengenai: kaum perempuan.

Demikianah halnya setiap malam-malam bersambut pagi bayan menghabiskan sebanyak tujuh puluh ceritanya dalam 70 malam. Segala isi cerita-cerita itu memberi insaf kepada isteri Khoja Maimun, sehingga pulihlah semula rasa setianya kepada suaminya dan lenyaplah segala niat hatinya hendak melakukan perbuatan cemar itu sampai suaminya kembali.

Referensi:
Hikayat Bayan Budiman merupakan salah satu manuskrip tulisan tangan Melayu yang ditulis dalam bahasa Melayu. Teks terawal diterjemahkan oleh Kadi Hassan pada 773 H (1371 M), yang menurut MCP, mengandungi 69,761 patah perkataan. Hikayat Bayan Budiman merupakan satu hikayat yang telah mengalami perjalanan yang panjang baru sampai ke bahasa Melayu, iaitu pada tahun 1600 M. Cerita ini pada mulanya merupakan sebuah hikayat tua Hindu yang bernama Sukasaptati (Cerita-Cerita Bayan). Cerita ini disalin dengan beberapa pengubahsuaian ke bahasa Parsi dengan nama yang baru, iaitu Tuti Nameh oleh Nakhshabi. Terjemahannya yang lain terdapat juga dalam bahasa Turki dan bahasa Hindustan.

Sukasaptati ini masuk ke alam Melayu mula-mula merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa, Bugis, dan Makasar. Terjemahannya dalam bahasa Melayu merupakan salinan daripada riwayat terdahulu. Dipercayai terjemahan hikayat ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Kadi Hassan pada 773 AH (1371 M) pada zaman Kerajaan Melayu Melaka. Namun, naskhah yang dianggap lengkap barulah ditemui bertarikh 1600 M. Salinan hikayat ini dalam bahasa Melayu mempunyai pelbagai tajuk seperti:- Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Khoja Maimun, Hikayat Khoja Mubarrak, dan Cerita Taifah dalam tulisan Jawi.

Cerita Bayan ini terkenal ke beberapa buah negeri, dan salinan-salinannya telah ada dalam bahasa Turki,. Hindustan , demikian juga dalam bahasa Jawa, Bugis dan Makasar; tetapi salinan-salinannya dalam bahasa Jawa ada­lah jauh bezanya dengan salinan yang di dalam Bahasa Melayu, yakni Hikayat Bayan Budiman itu.

Naskah yang tertua dari Hikayat Bayan Budiman sepanjang yang diketahui orang ada tersimpan di dalam Bodleian Library, Oxford . Naskah ini tidak lengkap, hanya lembaran-lembaran hikayat itu mengandungi empat belas muka. Daripada maksud kata-kata yang tertulis di­sabelah luar dan dalam pembungkus lembaran-lembaran. yang tersebut itu dapat dijadikan alasan bahawa tarikh lembaran-lembaran itu dapat ke tangan seorang bangsa. Eropah ialah pada kira-kira T.M. 1600.
Sebuah lagi naskah lama Hikayat Bayan Budiman, ada tersimpan di dalam kutub khanah India Office, London­Pada hujungan naskah ini ada menyebutkan bahawa. naskah itu telah disalin pada T.M. 1808 daripada naskah, yang telah "di-riwayatkan" pada tahun Wau, hari Sabtu. 18 Sha'ban, Hijrat u'I-Nabi s.'a.w seribu delapan, yakni bersamaan dengan T.M. 1599.

Bagaimana pun, lembaran-lembaran Hikayat Bayan Budiman mengandungi 14 muka yang telah sampai ketangan seorang bangsa Eropah pada kira-kira T.M. 1600, dan ada tersimpan di dalam Bodleian Library, Oxford itu, haruslah lembaran-lembaran yang telah bercerai-cerai dari sebuah naskah lama, naskah ini haruslah telah diterjemahkan beberapa lama terlebih dahulu daripada naskah yang "di riwayatkan" pada T.M. 1599 itu. Boleh jadi juga naskah lama yang mengandungi lembaran­-lembaran 14 muka itu telah di-terjemahkan atau disalin ke bahasa Melayu pada zaman Kerajaan Melayu Melaka, yakni sebelum T.M. 1511, kerana pada zaman itu harus­lah telah ada dibawa ke Melaka sesebuah naskah asal cerita-cerita bayan itu dalam bahasa Parsi, sama ada naskah Tuti-nameh atau lain, iaitu seperti beberapa buah hasil-hasil sastera Parsi atau 'Arab, seumpama Hikayat Muhammad Ali Hanafiah, Hikayat Amir Hamzah dan se­bagainya, yang telah disadur atau disalin ke bahasa Me­layu oleh penterjemah-penterjemah pada zaman Kerajaan Melayu Melaka itu.

Sumber:




Makanan Khas Indonesia : Tauco 

“Tauco” makanan fermentasi yang sudah tidak asing di telinga kita ini berasal dari Cianjur. Saat itu tahun 1880, Tan Ken Yan untuk pertama kalinya mencetuskan ide pendirian industri tauco. Ide ini didasarkan pada tingginya minat masyarakat terhadap makanan tauco dan tauco sering digunakan masyarakat sebagai penyedap dalam masakan daging, ikan, sayuran, serta sambal . Industri tauco pertama di Cianjur adalah Industri Tauco Cap Meong yang didirikan oleh Tan Ken Yan tahun 1880. Pendirian industri ini didasarkan pada tingginya minat pasar terhadap makanan tauco serta menjaga warisan leluhur.

Selama berdirinya, tauco Cap Meong terkenal akan kelezatan dan kualitasnya. Agar tauco ini tidak punah, Tan Ken Yan mewariskan tata cara pembuatan tauco kepada putrinya Tasma dan suaminya Babah Tasma. Penamaan meong sendiri mulai digunakan tahun 1935. Istilah meong sendiri berasal dari ditemukannya tapak kaki meong yang diyakini sebagai peliharaan Eyang Suryakencana seorang leluhur Cianjur.

Bumbu makanan dari biji kedelai yang telah direbus, kemudian dihaluskan dan diaduk dengan teung terigu, lalu biarkan sampai tumbuh jamur (fermentasi). Fermentasi tauco dengan direndam dengan air garam, kemudian dijemur pada terik matahari selama beberapa minggu sampai keluar aroma yang khas tauco atau rendaman berubah menjadi warna coklat kemerahan. Pada pertengahan prosesnya, rendamannya sering mengeluarkan bau yang menyengat seperti ikan busuk/bau terasi. Dari hasil air rendaman diolah menjadi kecap, sedangkan biji kedelainya menjadi tauco. Contoh tauco yang beredar di daerah Riau berbeda dengan tauco dengan di daerah Jawa dan Kalimantan.
Berkas:Theu-chiong Bangka Douchi.JPG
Tauco Bangka

Tauco Cianjur

Gurih Lembut Tauco Kalimantan
Tauco Kalimantan


Dari pengalaman, tauco dapat disimpan lama sampai bertahun tahun, dan tidak akan rusak atau basi selama penyimpanannya tidak terkena air mentah ataupun terkontaminasi dengan bahan organik lainnya. Sayang, tidak ada penelitian yang lebih terperinci mengenai tauco. Oleh para buruh kasar (khususnya masyarakat Tionghoa) dibeberapa daerah, tauco digunakan sebagai lauk setiap makan terutama saat makan bubur bening. Penggunaannya yang umum adalah sebagai bumbu atau penyedap dalam membuat lauk pauk, misalnya ayam bumbu tauco, nasi goreng tauco, ikan tumis tauco


Sumber:



Jumat, 18 Maret 2016

Membuat Program Kalkulator Pada Visual Basic


Aloha sob ! Kali ini ane mau berbagi pengetahuan cara membuat program kalkulator pada visual basic buat kalian yang kehausan ilmu. Caranya mudah aja dan masih sederhana sob, dan kalian kehausan kan? hehehe. Siapin segelas air hangat disamping pc atau laptop kalian yak :D terus banjur aja kalau ga ngerti, eh.. diminum maksudnya >.<
Kuy lah, kita cekidot step by step membuat programnya:

Rabu, 16 Maret 2016

Vesuvius mengubur Kota Pompeii

Vesuvius mengubur kota Pompeii

Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja. Semenjak itu penggalian kembali kota ini memberikan pemandangan yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi.

Selasa, 15 Maret 2016

Kebudayaan Suku Bugis

Suku Bugis
To Ugi’ atau yang dikenal di telinga kita dengan sebutan Suku Bugis, adalah kelompok etnik yang berasal dari Sulawesi Selatan. Sejak abad ke-15 pendatang dari Melayu dan Minangkabau merantau sebagai tenaga kerja dan pedagang yang sekarang di kategorikan juga sebagai suku Bugis. Namun bukan hanya di Sulawesi Selatan, suku Bugis juga bisa kita jumpai di negara tetangga, Malaysia dan Singapura misalnya. Menyebar pula di seluruh wilayah provinsi Indonesia  seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau.